Rabu, 01 November 2017

Beli Barang Branded, Kebutuhan atau Sekedar Ikut-ikutan?

Beli Barang Branded bermerek

Pernah denger istilah barang branded? Itu, barang yang punya merek ternama. Dibanding barang yang biasa dijual di pasar, harganya bisa 2 sampai 4 kali lipat. 

Meski sudah tahu harganya selangit, kenapa masih banyak yang beli? Yap, gengsi. Mereka beli gara-gara menjaga gengsi.

Menurutmu, berapa harga gengsi manusia? Satu juta? Sepuluh miliar? Seratus ribu triliun? Enggak terbatas. 

Jika diibaratkan itu seperti semesta raya yang bisa dimasuki oleh benda-benda di jagad raya. Bahkan lebih gede lagi. Itulah gengsi, yang kalau enggak dijaga bisa-bisa makan orang juga, lho!

Tapi pada praktek sungguhan enggak seserem itu kok. Penyuka barang-barang dengan brand ternama umumnya anak muda yang suka tampil eksis. 

Mereka ngerasa, kalau dandanan sudah oke, pakaian dan aksesoris yang dipakai juga wajib oke dong. Akhirnya mereka pun jatuh ke tangan pelapak yang jual barang dengan brand ternama itu.

Di pasaran banyak sekali barang dengan brand ternama yang berkeliaran. Dari barang yang suka diinjek-injek (rd: sepatu) sampai yang dipakai buat penutup kepala. 

Di kategori sepatu, ada Adidas, Nike, Asics, Puma. Di kategori topi, ada NYPD, JIDOOHOX, dan lainnya. Itu baru dari bawah dan atas aja, belum yang lainnya.

Intinya, semua yang bisa dipakai dalam tubuh itu selalu ada label brand terkenalnya. Baju, celana, tas, apa aja. Pertanyaan selanjutnya, “Apakah beli barang-barang macam itu masuk kebutuhan atau ikut-ikutan?” Nah, pertanyaan bagus. Ada pepatah, “Cinta itu buta.” Semoga kamu bukan termasuk yang buta, ya.

Kebanyakan anak muda yang berburu barang branded itu kaum sosialita. Alasannya enggak enak kalau temen sendiri pakai, kok cuma pakai barang second. 

“Mau ditaruh di mana muka kita?” tanya mereka. Akhirnya mereka menaruh muka ke dalam dompet. Begitu ditaruh, mereka lupa kalau uang di sana pas-pasan banget.

Sampai pada paragraf di atas, alasan seperti itu boleh aja. Asal di dompet bank masih banyak simpanan. Kalau enggak, mending dipikir ulang. 

Soalnya masih banyak kebutuhan yang lebih mendesak. Jangan karena ikut-ikutan, justru ngorbanin kebutuhan sehari-hari.

Kaum muda yang pakai itu biasanya kena pengaruh artis yang berseliweran pakai barang-barang mahal. Cara-cara fashion mereka pun ditiru secara buta. Padahal, bisa jadi para artis itu pakai gara-gara kelebihan uang. Misalkan penyanyi, semalam manggung aja gajinya bisa lebih dari 10 juta. Kalau kamu?

Pertanyaan selanjutnya, “Kenapa barang yang punya brand ternama harganya bisa sampai 3 kali lipat, bahkan lebih?” Mulai dari sini, ketahuan kan kalau nama juga mahal harganya. 

Buat merangkak ke pasar dan mendominasi juga perlu waktu dan usaha banyak. Jadi mereka enggak tanggung-tanggung melabeli harga mahal ketika sudah top.

Bisa jadi gara-gara bahan yang dibuat juga berkualitas tinggi. Barang berkualitas tinggi ditambah dengan nama mentereng, wajar kalau harganya selangit. 

Selain itu, saat barang selesai diproduksi biasanya akan langsung dilabeli harga 2x lipat dari harga pasca produksi. Itu baru perjalanan mula-mula.

Selanjutnya, barang akan disuplai ke retailer. Di sanalah transaksi jual-beli barang terjadi pertama kali. Sebelum masuk pasarn, retailer akan ambil keuntungan yang sama. 

Bahkan bisa sampai 200%. Belum ketika sampai ke pelapak, dan lain-lain. Kalau kamu beli topi biasa mungkin cuma 15 ribu. Kalau topi branded bisa ratusan ribu Rupiah.

Saran terbaik, kalau kamu mau coba barang-barang yang mahal itu jadilah orang kaya dulu. Kalau enggak, jadilah model atau artis. Biasanya kamu punya kesempatan gratis pakai barang-barang semacam itu. 

Bisa buat endorsement atau iklan. Pada titik ini, tentunya kamu mesti punya nama tenar dulu untuk bisa menikmati kemewahan itu.

0 komentar:

Posting Komentar